RSS
12 Maret 2010
HomeAceh TodayReintegrasiPEMILUPartai-PartaiBisnis InvestasiEnergiIndeks
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
blitzmegaplex
Gado-gado Gender Buku Bersampul Lembayung
lokasi: Home / Berita / Buku Online / [sumber: achehpress.com]
Jumat, 01/05/2009 | 18:38 WIB - Dibaca 409 Kali
Gado-gado Gender Buku Bersampul Lembayung

Resensi buku Timang

Gado-gado Gender Buku Bersampul Lembayung 

oleh : M.Nizar Abdurrani

Buku berjudul Timang ini secara fisik lumayan indah, dengan warna lembayung yang  mengesankan kelembutan, suatu karakter yang identik dengan perempuan. Buku setebal 200 halaman plus 35 halaman pendahuluan cocok untuk dibaca sebagai pengisi waktu luang orang-orang yang sibuk karena hanya butuh waktu sekitar 1 jam untuk melahapnya. Tidak terlalu tebal, layaknya buku-buku bertema berat yang biasanya ditulis dengan penuh semangat. Sebagai sebuah buku yang mengupas tentang apa itu gender, buku ini cukup mampu menjadi referensi bagi masyarakat awam yang sedang menjadi tahu apa definisi dari gender.

Buku ini sangat mendekati sebuah buku teks ilmiah dimana berbagai keterangan tentang istilah-istilah dicantumkan pada bagian awal buku. Diharapkan para pembaca yang kemungkinan dari berbagai latar belakang dapat memahami istilah-istilah yang digunakan terutama beberapa idiom dalam bahasa Aceh. Tentu pembaca buku ini bukan hanya orang Aceh semata sehingga pemberian keterangan menjadi sangat penting. Begitu juga dengan singkatan-singkatan resmi dari lembaga pemerintah yang sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum di Aceh tapi tentu saja masih asing bagi orang yang tinggal di luar Aceh. Mungkin saja buku ini hendak diekspansi ke luar Aceh. 

Yang menarik lainnya secara fisik, buku ini pada awal tiap artikelnya mencantumkan foto dan biodata para penulis. Pencantuman foto dan biodata membuat pembaca seakan-akan menjadi lebih akrab dengan penulis. Akan terbentuk citra positif sebelum membaca tulisan dengan melihat biodata penulis yang semuanya merupakan orang-orang aktif dibidangnya, bukan orang sembarangan lah. Bisa saja pandangan akan berubah setelah membaca tulisan yang mungkin saja tidak match dengan pikiran pembaca tapi paling tidak suka kenal duluan. Jarang ada buku-buku ilmiah popular, jika bisa disebut demikian, mempunyai gaya seperti ini.

Walaupun buku ini menerangkan hal ihwal perihal gender berserta permasalahannya terutama di Aceh namun pandangan didalamnya cukup beragam. Keberagaman ini semua pada hakikatnya semua mendukung upaya-upaya peningkatan pemahaman gender. Dengan berbagai gaya mengupas masalah gender. Misalnya tulisan Effendi Hasan (EH) yang seolah-olah menentang kesetaraan gender tapi jika ditilik lebih dalam ia sendiri setuju dengan kesetaraan gender asal merujuk kepada budaya dan sejarah Aceh. Artinya ke 16 penulis masih mempunyai benang merah yang sama yaitu bagaimana mendukung upaya kesetaraan gender. 

Buku yang merupakan kumpulan artikel yang pernah dimuat di website acehinstitute.org dibuka dengan tulisan provokatif dari EH yang menentang gender ala barat di terapkan di Aceh. Sebuah penempatan yang bagus, memainkan emosi pembaca terutama pegiat gender. Bagi awam sekalipun tetap menarik melihat tulisan seorang cendikiawan, sesuai dengan biodata di awal artikelnya, menulis menentang gender barat dengan alat ukur barat pula. Terbukti memang, tulisan selanjutnya habis-habisan mengupas tulisan EH ini baik dari segi isi hingga kepribadian EH sendiri. Sampai ada artikel selanjutnya yang menduga EH  itu orang yang sombong. Zubaidah Djohar sampai mengatakan “yang berbeda belum tentu salah, juga tidak kafir. Bukankah Islam mengajarkan kita agar tidak berlaku sombong” (halaman 25 paragraph 2). Sebuah kebiasaan sepertinya dikalangan intelektual Aceh untuk mengunci argument lawan bicara dengan sebuah tuduhan sambil mengacungkan dalil agama. 

Kalau dipikir-pikir beruntung juga menjadi EH, karena selanjutnya buah pemikiran dia menjadi bahan “penelitian” penulis lain. Ramai-ramai penulis lain mengupas tulisan EH, tercatat tidak kurang 4 orang penulis “menggarap” EH. Apakah penyusun buku tidak punya  artikel lain untuk dikumpulkan ketimbang mengumpulkan para penentang EH? Buku ini lebih menarik jika yang dikupas adalah tentang gender itu sendiri, bagaimana perjuangan menerapkannya, hambatan-hambatannya dan sebagainya. Buku akan menjadi sebuah teks ilmiah yang menjadi pegangan bagi para orang “awam” untuk memahami gender. 

Buku ini lebih banyak mengupas tentang konsep gender semata terutama dari sudut pandang dunia modern (baca barat). Untunglah ada Sanusi M.Syarief (SMS) yang memecah kemonotonan perspektif dengan memberikan perspektife dari sudut pandang budaya Aceh dalam artikelnya yang berjudul Ureung Inong dan Desain Tradisi. SMS berhasil sepertinya memberi kuliah tentang kebudayaan Aceh, dimulainya dengan anatomi rumah Aceh. Ternyata fungsi-fungsi bagian rumah Aceh mempunyai fungsi gender juga yang sudah berlangsung sejak ratusan lalu. Lihat saja ulasannya tentang deyah atau balai yaitu bangunan khusus untuk perempuan. Ternyata deyah merupakan sebuah bangunan yang diperuntukkan khusus bagi kaum perempuan Aceh, baik itu sebagai tempat pertemuan, tempat belajar dan juga tempat ibadah, tulisnya. Pelajaran gender dalam perspektive budaya menjadi sangat menarik ketika kita sadar ternyata dalam budaya kita banyak sekali nilai-nilai gender yang bisa menjadi referensi.

Ada satu artikel lagi yang bisa dikatakan sebuah artikel “menyempal” dari frame penulisan gender buku ini. Lamantina Sihaloho, seorang non muslim dari Simalungun Sumatera Utara, alih-alih menyorot masalah gender tetapi lebih banyak mengkritik ajaran Islam yang menurutnya dalam hal hak wanita tidak masuk akal. Yang bersangkutan, sesuai dengan biodata di awal artikelnya adalah lulusan fakultas Teologia dengan bidang kajian Islam terutama Muhammadiyah, sangat emosional dalam memandang Islam sebagai agama yang tidak bersahabat pada perempuan. Seperti awal yang disebutkan di atas, ketika membaca biodata penulis, terbetik sebuah harapan akan tulisan yang jernih akan tetapi Lamantina tidak menunjukkan kemampuan ilmiahnya dalam memandang sebuah teologi lain. 

Berbeda dengan tulisan para Romo kawakan, katakanlah Romo Mangunwijaya, yang dalam tulisannya selalu bijaksana, lepas dari sekat-sekat ideologis apapun. Lamantina malah berusaha menjadi hakim yang memutuskan ajaran Islam harus ditinjau ulang agar cocok dengan perempuan. Baca saja kalimatnya “apakah tidak ada hadist yang dirangkumkan oleh para ibu yang merupakan istri Nabi Muhammad atau dari anak-anak perempuan Nabi? Apakah semua hadis serta merta melekat dengan otoritas laki-laki?”. Sebuah pendapat dari orang yang sama sekali tidak paham dengan Islam tetapi coba-coba menjadi ahli Islam. Jelas dalam Islam yang dimaksud hadis adalah segala perkataan dan perbuatan yang hanya berasal dari Nabi Muhammad SAW. Dan masih banyak kalimat Lamantina lain yang mencerminkan ketidak tahuannya akan Islam. Okelah, setidaknya dengan membaca tulisan Lamantina, kita jadi tahu bagaimana pandangan orang non muslim terhadap Islam walaupun kita yakin masih tulisan Lamantina bukanlah representasi dari pandangan cendekiawan non muslim.

Dua artikel tersebut terasa beda dari lainnya yang cenderung monoton dan mudah ditebak isinya. Sebuah artikel lain dari Saiful Mahdi yang berjudul Teladan dari Perempuan Aceh lebih mirip laporan penelitian NGO ketimbang artikel. Isinya terdiri dari berbagai angka-angka tentang perempuan Aceh, tentang populasi perempuan, akses pendidikan, tingkat pendidikan dan sebagainya. Tak lupa disisipkan table data korban tsunami dan gempa yang terjadi di Aceh. Maklum saja, penulisnya saat itu bekerja  sebagai koordinator program nasional proyek tsunami UNIFEM di Aceh. Bagi yang sudah terbiasa dengan laporan-laporan NGO atau UN tentu tidak asing dengan penulisan gaya laporan yang cenderung menampilkan statistik buruk dan menampilkan keberhasilan program yang mereka jalankan. 

Selanjutnya yang menjadi masalah dari buku cetakan kedua ini adalah begitu banyaknya kesalahan tulis, kurang huruf, paragraph berulang-ulang. Beberapa kekurangan huruf yang sempat di catat antara lain halaman 14 paragraph 2 tertulis “perdangangan” seharusnya “perdagangan”. Ada lagi halaman 104 paragraph 3 tertulis “ekoonomi”, seharusnya “ekonomi”. Kemudian ada lagi halaman 122 paragraph 2 ditulis “kemugkinan”, mungkin maksudnya adalah “kemungkinan”. Yang paling mengganggu dari segi editing adalah terjadi pengulangan paragraph yang cukup memakan halaman yaitu halaman 125  paragraph 2, sub judul membela perempuan muncul lagi di halaman 126 paragraph 2. Kejadian sama juga terjadi pada halaman 126 paragraph 1, yang muncul kembali di halaman 128 menjadi paragraph 3. Meminjam istilah anak muda sekarang “capek deh” melihat begitu banyak kesalahan editing dalam buku yang di editori 2 orang cendikiawan tamatan perguruan tinggi luar negeri.

Sebuah buku ketika diniatkan akan dilepaskan ke masyarakat umum sudah selayaknya diniatkan untuk memberikan kepuasan kepada pembacanya termasuk dalam segi editingnya. Apalagi yang menerbitkannya adalah lembaga professional sekelas Aceh Institute dengan dukungan 2 donor besar asing tentu sangat serius dan tidak mau dipermalukan dengan hal-hal sepele seperti kesalahan editing yang banyak sekali. Jika memang sudah terlanjur dicetak dalam keadaan banyak salah seharusnya penerbit melampirkan sisipan yang berisi koreksi terhadap kesalahan editing.

Sesuai dengan judul buku ini Timang yang artinya setara, sangat lebih bagus jika antara isi dan editing buku setara baiknya.  Biarkan pembaca disibukkan dengan urusan kandungan tulisan daripada kening pembaca berkerut melihat begitu banyak kata yang salah ketik ataupun paragraph berulang-ulang.  Kalau orang Inggris bilang “well done” untuk kerja yang bagus maka upaya penerbitan buku ini dapat diberikan kata yang sama. 

 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Gado-gado Gender Buku Bersampul Lembayung  
Jumat, 25/12/2009 | 21:03 WIB, oleh ayu sukma trisna
 
ingin cepat-cepat membaca... Emoticon
 
Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman :