
Banda Aceh – Deretan becak yang diparkir memanjang, tukang RBT, para pedagang asongan, kedai-kedai kopi berderet dengan para konsumennya serta tak ketinggalan pengemis berkeliaran berebutan rezeki dari para penumpang. Layaknya terminal dimanapun di dunia selalu ramai dan memberikan rezeki kepada banyak orang. Itulah dulu, terminal penumpang Setui, tempat bus berbadan lebar mangkal berpuluh tahun sejak zaman kemerdekaan. Kini terminal tersebut mati perlahan-lahan sejak bulan Maret 2009 dimana semua aktivitas bus penumpang pindah ke terminal baru yang dibangun BRR NAD-Nias di atas areal seluas enam hektar di Jalan Mr Muhammad Hasan Batoh Banda Aceh
Kini tidak ada aktivitas yang berarti di terminal Setui yang mempunyai luas 4.129.5 M2 selain kehidupan masyarakat yang tinggal di kedai-kedai dalam terminal. Sebagian kedai kopi masih buka melayani konsumen yang tinggal beberapa saja. Kios-kios makanan juga masih ada yang buka namun jauh lebih banyak yang tutup. Umumnya mereka hanya sekedar menghabiskan masa sewa kedainya untuk kemudian mencari tempat baru.
Seorang pemilik kedai makanan ringan, Ilyas, 34 tahun, mengatakan tidak ada kegiatan apapun kini di terminal Setui baik siang maupun malam. “Saya hanya tinggal saja di kedai ini menunggu masa sewa habis,”katanya tak bersemangat ketika ditemui Sabtu (25/4). Kedai yang disewanya merupakan milik pemerintah dan ia belum tahu apa rencana pemerintah selanjutnya pasca pemindahan terminal.
Penjual pisang sale, Zul, 18 tahun, tak kuasa melawan perubahan ini dan terpaksa ikut pindah jualan ke terminal baru Batoh. Pemuda tegap ini mengatakan kini pendapatannya dari berjualan merosot drastis sekalipun di terminal megah. “Pendapatan sekarang sangat tidak menentu bahkan pernah tidak laku sama sekali,”ceritanya. Menurutnya penumpang di terminal baru sangat sedikit. “Tadi malam (Jumat, 23/4-red) penumpang bus cuma 5 orang saja, akhir pekan baru banyak sedikit,”katanya sambil menggosok-gosok bungkusan pisang salenya. Zul menduga minimnya penumpang karena letak terminal baru yang jauh dari kota dan transportasi menuju terminal masih sedikit dan mahal.
Yang tak kalah mengenaskan di terminal Setui adalah penutupan WC umum oleh pengelolanya. Padahal WC baru saja selesai dibangun atas bantuan donor. “Kamar mandi umum hanya tersedia di loket PMTOH saja sekarang,”ujar Ilyas. Penutupan ini tentu saja menyulitkan para “penduduk” terminal Setui yang tinggal sedikit itu. Bagaimana pun kebutuhan akan air bersih adalah hal yang mutlak.
Ada yang positif dari sepinya terminal Setui yaitu kondisi lingkungan yang kini relative bersih dan tenang. Sampah-sampah tidak tampak lagi berserakan dan ada petugas kebersihan dari pemerintah yang menyapu secara rutin terminal.
Dalam gambar iklan bus antar kota PMABS yang diperkirakan dicetak tahun 60-an tampak bus-bus terbaru di zamannya terparkir rapi di terminal Setui didampingi para supir berpengalaman. Masa jaya Setui kini sudah sudah lewat.[ucup]